Posts Tagged ‘sekolah’

h1

Efek Tugas Akhir yang masih tersisa

September 20, 2008

Meski udah 1 bulan berlalu sejak sidang TA sampai tulisan ini dibuat, namun beberapa efeknya masih terasa sampai sekarang. Diantara sekian efek yang paling berpengaruh adalah, perubahan ritme hidup.

Tidak berubah drastis, namun saya terpaksa harus hampir kehilangan waktu untuk kegiatan rutin yang berpengaruh dengan hobi saya. Dulu ritme hidup saya cukup tertata rapih. Selalu ada alokasi waktu untuk nonton anime, main game dan baca komik. Meski ditengah-tengah kesibukan kuliah, saya selalu luangkan waktu untuk diri saya sendiri.

Namun semuanya berubah ketika jadwal sidang TA semakin dekat, apalagi waktu itu sy sempat nyambi kerja padahal lagi ruwet2nya kegiatan TA, bimbingan, nyusun laporan, dan lain2. Saya tak menyangka meskipun kerja sambilan, jadi programmer membuat saya terikat dan tidak bisa “bergerak”. Dari situlah saya mulai kehilangan arah, 24 jam saya gunakan 40% untuk kerja, 20% untuk urusan TA dan 30% untuk tidur dan kegiatan pokok untuk menyambung hidup (makan, mandi, buang air dan sebagainya) 10% saja waktu untuk diri sendiri, dan itu tidak pernah mencukupi. Saya mulai tertinggal dengan berita2 terkini mengenai anime dan manga…saya lupa apa anime terakhir yang pernah sy tonton, manga yang saya baca, episode berapa..chapter berapa…seakan saya bukan lagi saya yang dulu. Sayapun mulai jarang aktif di forum-forum dan akhirnya saya benar2 berhenti dengan kegiatan ber-forum.

Saat ini saya sedang berusaha mengembalikan ritme hidup yang sempat kacau. Saya mulai dengan merintis untuk baca komik lagi…meskipun untuk anime saya belum sanggup untuk mengatur waktu mengingat biasanya sehari saya bisa habiskan 6-12 episode sekaligus. Padahal sebenarnya saya punya banyak sekali waktu luang untuk saat ini. Namun entah kenapa sindrom TA (begitulah saya dan teman2 menyebut efek TA ini) ini membuat saya selalu saja ter-distraksi dan muncul rasa malas untuk “menekuni” kegiatan-kegiatan saya di masa lalu. Selain manga (atau komik) saya mulai buka-buka forum lagi (makasih buat nyanya yg udah “memancing” kembalinya saya di IA karena fanfic bikinanmu yang kacau itu 😀 )

Yah…semoga tidak ada sindrom susulan lagi yang sejenis atau bahkan yang lebih parah… ^^ Perjalanan mengembalikan jati diri pun dimulai…

h1

PENS – ITS : Nostalgia yang berakhir tragis

September 8, 2008

Tujuan awalnya minta transkrip sementara sekalian bernostalgia mengenang masa2 kuliah dan bimbingan TA. Sekalian mumpung lagi di surabaya.

Masuk gedung L lewat samping, ada seseorang yang keliatannya dosen, melambaikan tangan isyarat memanggil. Karena ga mau ge-er, sy noleh kebelakang, mungkin manggil orang lain. Ternyata sy yang dipanggil. Begitu dekat, sy ditanya :

“Mas, anda beneran mahasiswa poltek?” Dengan suara keras dan tatapan mata tajam.

Sambil mengerutkan dahi, “Bener pak…”

Masih dengan ekspresi sok jahat, “Coba lihat KTM anda?!!”

Dengan masih bertanya2 dalam hati, sy keluarkan KTM dan berikan ke bapak tersebut. Ketiga teman sy jg ditanya tentang KTM. Setelah lihat KTM sy kemudian si bapak nyeletuk,

“Mahasiswa poltek kok GONDRONG gitu mas, anda potong rambut dulu!!”

WHAT??!! Masih agak kurang percaya dengan kata-kata si bapak, lelucon baru nih? Ternyata si bapak serius. Dan KTM sy dibawa sambil jalan (sok) cepat meninggalkan sy dan teman-teman. Saya kira si bapak minta diikutin trus rambut sy mau dipotong ngawur di ruangannya. Belum lama sy nguntit dibelakangnya, tiba2 tu bapak ngumpat lagi,

“LHO ANDA NGAPAIN? SANA POTONG RAMBUT DULU” Masih dengan intonasi tinggi plus muka sewot biar keliatan garang.

Hah? Bukannya si bapak pengen diikutin? Tanya sy dalam hati. “Err…iya pak abis ini sy mau potong rambut…trus KTM saya pak…?”

“KAMU POTONG RAMBUT DULU!!! KOK MALAH NGIKUTIN SAYA!! KAMU GOBLOK YA???!!”

GOBLOK……….

GOBLOK…….GOBLOK…..

Toenggg….toeeeenggggg…….kata2 terakhir terdengar menggema persis kaya di studio musik yang ga pake peredam. Baru sy ngeh, ternyata maunya bapak ini sy potong rambut dulu baru KTM dikembalikan. Tapi….ya ampun…seorang dosen, berucap sebuah kata “sakral” seperti itu. Di bulan puasa lagi….ya Allah…. Setelah kata-kata itu, sy pun berhenti dan nyengir ke arah si bapak yang (lagi-lagi sok) cuek dengan langkah yang (lagi-lagi sok) cepat meninggalkan saya. Astaga…

Dalam hati saya tersenyum kecut, mentertawakan tingkah seorang bapak-bapak yang lupa tempat dan waktu mengira sedang berhadapan dengan anak kecil yang takut bentakan.

Saya tidak tau siapa nama bapak tersebut tapi berdasarkan referensi dari teman saya, suspect (baca : dosen tersebut) diduga bernama Iri*nto yaitu dosen Matematika yg biasa ngajar jurusan mekatronik dan otomasi. Baru sekedar dugaan karena menurut rumor dosen tersebut memang gemar berkata kasar dan membentak2. Saya sendiri belum pernah diajar namun mungkin ada benarnya juga dugaan tersebut.

Anyway, sy sedikit mereview, sy hidup di dunia perkuliahan belum pernah ada teguran mengenai rambut gondrong yang sampai separah itu (bentak2 plus sita KTM bonus umpatan sakral). Well…bolehlah kalo kita hidup di dunia sekolah, SD, SMP, SMA…namun…plis deh …KULIAH..??!! Teman-teman saya yang juga sama-sama kuliah, ada yg lebih parah gondrongnya, di kampus2 lain pun sy biasa menemui mahasiswa gondrong. Singkatnya, biasa lah mahasiswa pria berambut panjang.

Saya akui memang kurang rapi dengan penampilan gondrong. Tapi apakah perlu sampai membentak dan mengumpat…? Dan yang lebih parah, seorang DOSEN yang melakukan hal itu. Lagipula sy sudah lulus…? Kalo mau silahkan ambil aja KTM saya, mungkin mau di-pigura, diberi testimonial : Mahasiswa eksentrik dengan rambut panjang yang berhasil saya UMPAT urutan yang ke-seratus sekian-sekian. (saking banyaknya mahasiswa yang pernah dapet “hadiah” door prize dari beliau)

So…where is the respect?

h1

Ada Apa dengan Seragam Sekolah di Indonesia?

February 24, 2008

Mengapa seragam sekolah di indonesia desainnya begitu-begitu aja?

😀

mungkin salah satu faktor yang membuat seragam sekolah di Indonesia gitu2 aja (terutama sekolah negeri) adalah filosofi pemerintah yang tidak ingin membeda-bedakan antara orang kaya dan yang pas2an.
termasuk juga untuk tidak membedakan mana murid dari sekolah bagus dan yang tidak. atau bisa juga karena untuk membuat seragam yang aneh2 diperlukan biaya yang lebih oleh karena itu hanya sekolah2 yang kaya (atau mahal SPP-nya) yang bisa mengakomodasinya. alhasil hanya anak orang2 kaya saja yang bisa bersekolah disitu. kembali lagi ke masalah kesenjangan sosial.

padahal dengan adanya seragam yang unik dan sedap dipandang, ada beberapa keuntungan antara lain :
1. jadi lebih semangat berangkat sekolah
2. ada kebanggaan tersendiri terhadap almamater
3. memberikan “warna baru” pada dunia pendidikan. misal nantinya bisa ada lomba kreatif2an seragam sekolah, dll..
4. secara tidak langsung menunjukkan kredibilitas sekolah bersangkutan
5. ada lagi yg mau nambahin?

beberapa sekolah swasta disini juga sudah mulai banyak yang membuat desain seragam mereka sendiri yang unik. dan hasilnya, ada kesan eksklusif tersendiri disana.

mungkin kalau tiap sekolah diberi otonomi tersendiri untuk membuat desain seragam mereka sendiri, tak lama kemudian muncul desain2 cute seperti yang biasa kita lihat di sekolah2 jepang/korea. yah tapi dengan mempertimbangkan konsekuensi2 yang udah disebutkan diatas ^^