Archive for April, 2008

h1

Java : Bahasa Pemrograman Paling Narsis

April 4, 2008

Kata-kata ini sebenernya udah lama terngiang di kepala sejak pertama kali belajar tentang Java, bahasa pemrograman yang (katanya) multiplatform dan portable.

Kenapa paling narsis? ya, hampir semua yang ada dalam Java, baik class-class, package dan sebagainya selalu diawali dengan kata2 “Java” atau minimal huruf “J” didepannya. Contoh, dalam Java ada komponen atau class2 seperti : JButton, JWindow, JApplet, JDBC, dan masih banyak lagi. Buka user manual Java, maka hampir semua yang ada di indeksnya adalah huruf “J” hehehe…..

Jika anda pakar Java atau setidaknya pernah “berurusan” dengan bahasa ini pasti menyadari hal itu tapi mungkin sedikit yang sadar implikasi tersembunyi dari sistem penamaan ini. Ya, implikasi yang berujung pada anggapan bahwa java adalah bahasa yang “narsis”. Sama seperti seorang anak muda yang terobsesi pada dirinya sendiri (narsis), bangga akan dirinya, yang menuliskan namanya dimana saja, buku, baju, pin, tas, plat nomor dan sebagainya.

Mungkin maksud para pakar pembuat Java adalah untuk membedakan dengan komponen atau class milik bahasa lain. Tapi belum tentu juga. Coba amati, bahasa-bahasa lain yang juga sama2 berorientasikan obyek seperti C++, Ruby, bahasa-bahasa dalam .NET Framework, tidak menggunakan “nama merk” mereka dalam menamai sebuah class atau komponen. Tidak ada dalam komponen Visual Basic NET yang dinamai VBButton, VBComboBox, VBDataGrid, VBDBC, atau pada C# (baca : C sharp) komponen C#Button, C#GroupBox, C#DBC, dan seterusnya. Dan tidak masalah tuh meskipun tidak mengikutsertakan merk mereka dalam penamaan komponen. Dan untungnya mereka tidak menggunakan itu (gawat kalau ada nama komponen seperti itu soalnya kebanyakan karakter “#” tidak boleh dijadikan nama variabel).

Cara penamaan yang seperti ini memang ada juga efek positifnya, bisa membuat seseorang semakin jatuh cinta terhadap Java, seperti jika seseorang sering bersama dengan lawan jenisnya maka akan timbul ketertarikan dalam dirinya, tapi bisa juga seperti pedang bermata 2 yang membuat seseorang itu menjadi fanatis. Saya punya teman di kampus yang bisa dibilang memang suka Java. Saya bilang suka dan bukan pakar, karena memang kemampuannya di Java tidak sehebat itu, mungkin kemampuan teoritis saja dan belum bisa dipakai untuk menghasilkan sebuah produk. Dia sangat menyukai Java, sampai-sampai hanya Java saja bahasa yang dikenalnya. Sepertinya dia tidak tertarik untuk mempelajari bahasa lain.

Ok back to topic.
Boleh-boleh saja sih ya mau dinamai JButton atau apa terserah si pembuat Java nya kan? Tapi menurut saya cara ini tidak efisien, boros memori (butuh alokasi memori tersendiri untuk menaruh huruf “J” atau “Java” yang seharusnya bisa dipakai untuk keperluan lain) dan kasihan huruf J pada keyboard seorang programmer Java yang mengalami depresi karena frekuensi terkena tekanan jauh lebih banyak daripada huruf2 yang lain 😀

Kalau saja Sun mau merilis sebuah keyboard khusus yang menyertakan tombol “Java” sehingga dengan menekan tombol itu langsung tercetak kata “Java” di layar editor, mungkin bakal laris manis tanjung kimpul. Hwehehehe….

h1

WMA versus MP3 experimental benchmark

April 1, 2008

Hari udah malam…tidak…udah pagi, hampir jam 3 pagi. Tadinya mau istirahat buat meeting besok (baca previous post) tapi tangan rasanya gatal pengen melakukan sesuatu. Akhirnya diadakan test ini, perbandingan head-to-head format audio MP3 dengan WMA pada bitrate yang lumayan “nggak umum” yaitu 80kbps. Perbandingan ini bersifat eksprerimental, artinya baik tool maupun encoder dipakai yang sudah terinstall di komputer saya dan saya yakin cukup umum dipakai, tanpa bermaksud menitikberatkan pada salah satu format. (udah malem bro…eh pagi ding..=P )

Tujuan utamanya untuk membandingkan, dengan bitrate yang sama manakah yang menghasilkan file yang lebih kecil.

Read the rest of this entry ?